( kamis, 4 april 2013)
Dari namanya aja sudah aneh apalagi
rasanya pasti nggak jelas deh…
Berawal dari usul temen saya yang
waktu itu pengen cari kopi yang enak tapi murah, saya mulai berfikir dan
melihat lampu ke atas.. ‘ting’ ternyata lampu masih nyala. Saya mulai sok dan
berfikir, pemikiran saya menyisir area kota.. dari area suramadu.. sampe kenjeran,, akhirnya
ide saya berhenti di warung kopi yang letaknya di seberang perempatan jalan
mulyorejo nggak jauh dari kontrakan…
Akhirnya gator temen saya yang tadi
pengen kopi enak tapi masih murah itu setuju dengan rekomendasi dari
saya dan gator mulai meworo – woro di area sekitar alias kontrakan..
Pada waktu itu jam masih menunjuk ke arah
setengah tujuh malam dan saya mulai mandi cz tadi saya masih berfikir sampai
melewatkan dua jam ‘lebay’. Bau mewangi disekelujur badan bertanda saya selesai
mandi kembang.
Ternyata empat orang yang berani
keluar malam ini dan mereka memakai costum gaul ala gembong, jreng… jreng... (pasar
loak yang sering dituju pemuda – pemudi termasuk saya). Akhirnya kita
mulai mengeluarkan motor kita masing – masing dan mulai berkendara... helm pun
tidak tertinggal, waktu terus berputar dan motor kami sliat – sliut di jalan,
lampu perempatan mulai terlihat,, akhirnya motor kami berhenti tepat di bawah
lalin karena lampu merah.
Suara klakson mulai terdengar
bertanda lampu sudah ijo dan motor kami melaju lagi.. sampe akhirnya tujuan
sudah dekat dan kami kendorkan kecepatan… sampe terlihat di sepedo meter mengarah
kearah 20km/jam,, selanjutnya belok kanan pelan – pelan dan tangan teman saya
tidak lupa untuk memberi isyarat kepada pengguna jalan lainnya. Akhirnya TKP
sudah terlihat di depan mata, banyak pemuda – pemudi lagi menikmati pesanan
mereka di lesehan alias trotoar yang hanya dilapisi tikar dan meja.
Motor kita mulai mendekat dan
berhenti,, kedua mata saya dan kedua mata teman – teman mulai melihat kearah
lesehan tadi… dan membatin.. ‘koq yang di atas meja pemuda – pemudi itu hanya sebuah
makanan penyetan’. Dan mata kita masih menyisir area sekitar untuk memburuh
tulisan warkop alias warung kopi, dari arah barat sampe timur ternyata tidak
ditemukan,, akhirnya kita meminta bantuan kepada preman setempat untuk
mencarikan warung kopi, ya enggak lha. Akhirnya secara bersamaan mata kita
mengarah pada satu tempat yang bertulisan yaitu “warung lodeh” . Ternyata lesehan yang di atas trotoar yang kita
bicarakan dari dulu ketika melewati jalan tersebut hanyalah lesehan warung
lodeh bukan warung kopi.
Akhirnya kita belum menyerah untuk
menghabiskan malam ini dan kami memutuskan untuk ngopi di warkop samping unair
dan mendapatkan tempat di antara belakang tiga pot besar dan pagar besi… persis
kayak ‘gembel lagi gaul’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar