Rabu, 10 april 2013. Hari ini ada uts.
Hari ini saya bangun dengan semangat,
meskipun hari ini bukan hari 17 agustus. ku mulai hari ini dengan seperti biasa..
yaitu mandi dengan sabun cair jonson milik keponakan yang berumur 2 tahun lebih itu. Seperti biasa
berangkat kuliah tanpa seusap nasi karena nggak sempat masak, tapi tenang aja nggak
lemes kq,, karena hari ini saya lagi semangat atau bahasa kerennya on fire atau
bahasa medisnya adalah kebakaran.
Setelah sampe di kampus ternyata saya
nggak terlambat dan membuka laptop untuk belajar kuliah ISD. kemarin sebelum
kuliah ini diujikan dosen memberikan kisi – kisi untuk dipelajari di rumah /
kontrakan. Berhubung di kontrakan sangat sibuk karena di ajak temen untuk bertanding bola, tepatnya tanding bola d
pees,, jadi nggak sempet mempelajari yang ada di kisi – kisi tersebut. Saya
mulai belajar di kelas tepat di bawah lemari es alias ace, saya mulai baca satu
per satu di slide sambil merasakan dinginnya udara di kelas dan ditambah perut
yang tadi pagi belum sarapan dan cacing tingkat satu sampe tingkat tiga yang mulai
demo di dalam perut… ‘sadis’.
Pada waktu itu saya hanya bisa
belajar, kulihat ada tisu sekotak di depan kursi, yang pemiliknya adalah april..
‘nama tidak disamarkan’ dan tak kusangka ternyata saya mempunyai pikiran jaman
purba dulu, yaitu menulis jawaban di tisu,, bukan batu. Akhirnya tisu-pun sudah
terpenuhi dengan jawaban – jawaban spektakular tersebut, tapi beberapa menit
kemudian di sebelah kanan saya terdapat sosok bayangan putih,, ooww…. ternyata
pikiran positif saya. Dia mulai sok menasehatiku mulai yang ini mulai yang itu,
akhirnya saya menuruti pikiran positif saya bukan karena nasehatnya tapi karena
sosoknya yang cerewet dan menyebalkan itu.
Dosen penjaga mulai datang dan duduk
di depan seperti biasa.. lembar soal dan lembar jawaban mulai berdatangan di
meja bertanda ujian sudah di mulai. Setelah berdoa saya mulai membaca soal
nomor satu sampe terakhir,, ternyata ingat yang apa aku pelajari di slide
tersebut… Alhamdulillah. Tetapi ada satu nomor yang belum jelas akhirnya tengok
kanan – tengok kiri mirip kebo di sawah.
Nasib tisu tadi masih berada di saku sebelah kanan saya, akhirnya saya khilaf
dan mengeluarkan tisu tersebut. Ku mulai membaca goresan yang ada di tisu tersebut
dengan hati – hati sambil mulut komat - kamit dan ngopas (copy-paste) apa yang
ada di tisu tersebut, tapi tenang kawan hanya satu nomor kq nggak semuanya.
Setelah berhasil copas temen saya yang di belakang akhirnya meminta hasil karya
saya… ‘tisu’. Setelah semua pertanyaan sudah terjawab dan beberapa menit
berkecipung di kelas, akhirnya saya
menyudahi ujian hari ini.
Beberapa menit kemudian temen yang duduk
di belakang tadi-pun keluar, oke kita anggap misi berhasil. Akhirnya kita masuk
kelas lagi dan memulai ujian kedua. Sebelum ujian kedua dimulai saya tak
sengaja mendengar rumor ada ngerpek.an yang ditemukan dosen penjaga. Dak… dik.. duk... bunyi jantung perut saya
berdetak.. saya lupa belum makan. tiba – tiba dafi bilang ke saya.. ‘don,
tisu-mu tadi nempel di soalku..’ ,sahutku.. ‘terus, dimana sekarang tisuku daf
?’ dia balas dengan santai ‘sudah terkumpul, mungkin sekarang sudah dibaca bu
tiiiiiitttt….. ‘sensor’’ saya terpaku dan terdiam. Akhirnya saya kelaparan cz
belum makan, tapi bukan itu masalahnya,, tisu saya kepergok aku yang nulis,
tapi dafi yang pegang,, akhirnya timbul dilemma terus saya nyanyi dilemma
lagunya ungu,,, ya enggaklah kampret.
Akhirnya saya berniat untuk
mengumpulkan niat untuk mengakui perbuatan tersebut tapi nggak sendirian saya nyeret dafi, rencananya
setelah ujian kedua ini berakhir kita langsung meluncur kekediaman dosen. Beberapa menit kemudian ujian kedua di mulai
tapi yang ini saya tidak menggunakan cara ajaib tadi, masih ingat-kan tulisan
di atas tadi.
Selang sebelum waktu ujian selesai
saya sudah mengumpulkan lembar jawaban dan seperti biasa temen saya ‘dafi’
masih tertinggal. Saya menunggu dia di luar kelas untuk melakukan perbuatan terpuji
yang sudah di niatkan tadi, akhirnya dafi keluar dan kami-pun berjalan menuju
tempat dosen tadi,, di tengah perjalanan saya dan dafi mulai mempernyiapkan
alasan – alasan yang ajaib agar tidak terlalu panjang pada waktu di interogasi.
Akhirnya kami sudah sampe di tempat dosen dan kami mengeluarkan jurus – jurus
yang sudah disiapkan tadi, akhirnya kami kalah, kami-pun menyerah sambil
mengangkat kedua tangan dan kami mendapatkan kata – kata bijak. saya percepat
ceritanya ya…
Untung wawancara tersebut hanya dalam
hitungan menit, bayangkan kalo hitungan jam mungkin saya sudah pingsan di
tempat… cz belum makan, akhirnya hari ini saya mendapatkan pelajaran yang
sangat berarti yaitu percaya diri. Gini kawan, kalo kita belajar malamnya atau
pagi sebelum ujian kita harus percaya diri apa yang kita pelajari itu agar
tidak menggunakan cara yang saya lakuin tadi “tisu ajaib”. Dan saya sadar bahwa membuat ngerpek.an itu tidak
nyaman buat diri – sendiri dan orang lain, membuat ngerpekan itu sangat
memalukan apalagi kepergok,, saya nggak akan ngulangi perbuatan tersebut dan
lain kali mungkin saya buat kayak temen – temen aja yaitu dari ‘kertas’.
By : dhona
- Sekian selangkong -